Tenggelam di Kolam Susu

Posted by Sepercik Tinta Jumat, 20 Mei 2011 0 komentar


Aku bukan bagian dari mereka, aku juga bukan sanak saudara mereka, aku juga bukan orang terdekat mereka aku juga bukan orang yang menjadi panutan mereka dan tempat mereka minta tolong, tapi aku kagum, salut, trenyuh seakan tak percaya akan keberanian mereka,  keoptimisan mereka. dan semangat mereka. Yah, bekerja di negeri orang bagiku bukan hakl yang mudah, kendala bahasa, kebudayaan, pergaulan,dan teknologi yang sangat signifikan perbedaanya. Tapi tidak bagi mereka,  dengan berbagai alasan, dengan berbagai ambisi mereka kalahkan rasa takut mereka sendiri,  yah semua mereka lakukan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, ereka lakukan demi sesuah nasi, mereka  mengobankan kebahagiaan mereka sendiri untuk kebahagiaan keluarga mereka, mereka merelakan jauh dari suami dan anak-anak mereka untuk mencukui kebutuhan mereka.
                TKW adalah sebutan bagi mereka, mereka adalah super ero bagi keluarga mereka, mereka adalah tumpuan hidup bagi keluarga mereka, mereka menelusuri sudut negeri orang, mereka di dapur  para juragan mereka untuk memasak, nyapu,ngepel nyuci.  Selain menjadi pahlawan bagi keluarganya mereka juga pahlawan dari negaranya, bangsa yang besar, bangsa yang gemah ripah loh jinawi, bangsa yang kuat, SDA melimpah, tanahnya subur, tapi sangat ironis kenapa warga Negara nya malah bekerja diluar negeri untuk sejedar memenuhi kebutuhan hidup. Apa penyabebnya, sapa yang disalahkan?
                Indonesia adalah Negara yang kaya akan potensi alam, gas bumi, minyak bumi, emas, berlian, bahkan titanium, dan hasil tambang yang lain, Indonesia juga kaya akan hasil taninya, sayur-mayur, didukung dengan tanah yang gembur. Tapi semua itu bukan hal yang membuat warganya makmur, hasil padi di Indonesia adalah padi yang baik kualitasnya, tapi kenapa masih saja kita mengimpor beras, bahan pokok pembuatan tahu dan tempe, masih juga mengimpor kedelai dari luar, apakah tanah kita tidak bisa ditumbuhi kedalai?
                Daya tarik para penjajah saaat itu adalah karena kita mempunyai banyak sekali rempah-repah, cengkaeh lada, kopi, temu,jahe.dll, tapi kenapa kita pada gak mau mengambngkan tanaman tersebut hingga malah sudah di hak patenka jepang. Salah siapa ini?? Tidak salah kalau banyak dari warga Negara kita yang rela mengabdi pada majikan bangsa lain untuk sesuap nasi, dan satu potong tempe  yang bisa membuat anak-anak mereka senyum karena bisa makan kenyang.
                Semakin meningatnya TKW seharusnya menjadi tamparan keras bagi pemerintah, mengapa belum bisa mensejahterakan rakyatnya, belum bisa menjamin penghidupan yang layak, padahal itu adalah hak mereka sehigga mereka merelahakan diri untuk menjadi abdi Negara lain. Siapakah yang harus disalahkan kawand?? Apakah semata-mata pemerintah?? Rasanya kurang bijak, tak perlu menyelahkan sesuatu yang telah berlalu, yang kita butuhkan adalah persiapkan diri kita, persiapkan anak-anak kita agar bisa menjadi genrasi Robbani, Generasi yang tangguh dan mumpuni.
                Ketika TKW sudah diap di berangkatkan maka banyak probabilitas yang muncul, dan semua keumungkinan itu tidak bisa di duga, bagaimana majikan mereka, yang ada di hati mereka adalah semiga mendapat majikan yang baik, yang mengormati pahlawan devisa kita. Bahkan Ilmu matematika diskrit yang ku pelajaripun tak bisa menghitungnya. Cukup sulit dan teramat sulit, tapi tidak bagi pahalawan kita. Dengan tekad yang tinggi dengan kemauan untuk menjadikan keluarganya hidu lebih layak mereka buah probabilitas itu, mereka bungkus dalam niat yang tulus, mereka genggam erat-erat rasa takut mereka, mereka mengankat dagu mereka, keoptimisan terpancar dari mata yang sayu, sangat terang dalam hati mereka bergumam “I’M  COMING HONGKONG”

Bahasa “Cantone” adalah bahasa dasar yang harus mereka kuasi, minimal untuk sekedar percakapan. Dan satu kalimat yang aku dapat dari temenku disana Kwaju lei, kata-kata itu seakan terukir dalam kerasnya otaku, kata2 itu terlukis begitu indah, dan menyenangkan untuk dikenang…. Apakah kalian ingin mengetahuinya kawand, silahkan Tanya pada orang-orang hongkong, :D
Peribahasa “berguru tidak harus disekolah” ada benarnya kawand, ketika ku berinteraksi lewat cyber world terlihat dengan jelas, Nampak nyata di depanku bahwa mereka bener2 bernyali baja dan berhati sutera. Mereka benar-benar terlatih untuk menghadapi segala macam bentuk conversation, mereka mahir dalam komnikasi, mereka tahu bicara dengan siapa  dan apa yang harus mereka bicarakan, dan secara tersirat mereka telah menginspirasiku dalam banyak hal kawand. Mereka telah membuka mataku, membelah jiwaku, dan menaburkan kata-kata yang tak bisa aku hilangkan
“Apa yang kita inginkan, belum tentu kita dapatkan”
Mereka tak pernah bercita-cita sebagai pahlawan devisa, mereka tidak pernah berharap untuk mengabdi di negeri orang, sekali lagi aku bilang kawand, “hidup adalah pilihan”, ketika kita sudah memilih tak ada hal lain yang bisa mereka perbuat kecuali focus,focus dan focus. Dengan segala ketidakenakan mereka buat menjadi sebuah rasa syukur yang akan menitikkan rintik2 kebahagiaan. Mereka berkumpul, menuangkan segara curahan hati, mengobati rasa rindu mereka di kampong halaman mereka, mengesampingkan kangen yang tak terbendung pada anak-anak mereka, suami-suami mereka ataupun keluarga yang mereka tinggalkan. Mereka bersama-sama dengan puluan ribu TKW di hongkong untuk bersilaturahmi di “VICTORIA PARK”

, to be continued……

               

Baca Selengkapnya ....

http://seperciktinta.blogspot.com/

Posted by Sepercik Tinta 0 komentar
http://seperciktinta.blogspot.com/
http://seperciktinta.blogspot.com/
http://seperciktinta.blogspot.com/
http://seperciktinta.blogspot.com/

Baca Selengkapnya ....
Original design by Bamz | Copyright of Blog Pintar.